Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Kabar baik

Berhentilah—atas nama kasih

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 15 Juli 2013

Aslinya diterbitkan di edisi Juni 2013 majalah The Christian Science Journal


Pada suatu hari yang bersalju di musim dingin, seperti biasa saya naik kereta menuju kantor sambil berdoa agar siap menghadapi hari yang sibuk. Ketika bergegas keluar dari perhentian kereta, saya melihat orang banyak bergerombol, jadi saya berhenti untuk melihat apa yang terjadi. Seorang wanita tergeletak di salju di areal plaza, dekat trotoar. Sementara orang-orang berdiri di sekelilingnya, tidak tahu apa yang harus dilakukan, beredar berita bahwa wanita tersebut menabrak truk di jalan dan terjatuh—dan bahwa mereka sedang menunggu ambulans. Saya tergoda untuk berpikir bahwa tidak ada yang dapat saya lakukan, dan sebaiknya segera menuju kantor. Tetapi saya merasa sangat kasihan kepada wanita tersebut, dan tidaklah mudah bagi saya untuk meninggalkan tempat itu begitu saja. 

Maka saya berdiri di sana dan berdoa untuk mengetahui bantuan apa yang mungkin dapat saya berikan. Sebagai orang yang mempraktekkan penyembuhan Kristen, saya telah belajar banyak tentang kemahakuasaan serta kemahahadiran Allah—dan melihat hal tersebut bekerja dalam kehidupan saya sendiri dan kehidupan orang lain. Saya tahu bahwa Allah hadir saat itu juga, mengasihi serta melindungi wanita itu.

Kemudian saya bertanya kepada diri sendiri apakah saya berani menyusup di antara orang banyak dan menjadi pusat perhatian saat berbagi kebenaran-kebenaran ini dengan wanita tersebut. Saya tahu hal itu dapat mendatangkan penghiburan dan kesembuhan baginya. Lagi pula, bagaimana saya ingin orang lain bersikap jika saya yang mengalami keadaan tersebut? Yesus berbicara tentang “memberi air sejuk secangkir saja... kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku” (Matius 10:42), dan dalam buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, Mary Baker Eddy menjelaskan hal tersebut, dan mengatakan bahwa memberikan secangkir air sejuk dalam nama Kristus merupakan “bakti Kristus” (hlm. 436)—dan selanjutnya mengatakan bahwa kita dapat melakukan hal tersebut dan “sekali-kali janganlah takut akan akibatnya” (hlm. 570).

Ketika pikiran-pikiran seperti ini melintas di benak saya, tidaklah sulit untuk melupakan pekerjaan, dan melupakan diri sendiri. Saya dapat mengandalkan Allah untuk membimbing saya. 

Sementara semua mata tertuju kepada saya, saya minta diberi jalan untuk mendekati wanita tersebut. Saya berlutut di dekatnya di atas salju dan meyakinkannya bahwa Allah bersamanya di sana, saat itu juga, dan sebagai anakNya yang terkasih, ia aman. Ilham datang untuk berbagi kebenaran yang dapat mengurangi ketakutannya. Sedang saya berbicara, saya melihat bahwa wanita itu menjadi kurang tegang, dan saya dapat merasakan bahwa ia terhibur dan meneguk kebenaran mengenai Allah yang diterimanya. Saya terus menemaninya sambil berdoa, dan saat ambulans tiba, wanita itu menyatakan terimakasih dengan tulus. Begitu saya meninggalkan tempat itu, saya merasakan rasa syukur dan kerendahan-hati yang besar karena pengalaman tersebut. Saya melanjutkan berdoa dan bersyukur kepada Allah.

Tiga minggu kemudian, salju sudah tidak lagi menutupi jalan. Di bawah sinar matahari yang hangat, dan di tempat yang sama di dekat plaza, seseorang mendekati saya. Ternyata ia adalah wanita yang telah saya tolong. Ia mengenali saya dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Ia mengatakan bahwa dalam perjalanan ke rumah sakit, ia dapat terus berdoa. Ia juga memberitahukan bahwa para dokter menyatakan bahwa dia baik-baik saja dan memperbolehkannya pulang. Ia mengatakan bahwa ia pengikut gereja Baptis dan telah berdoa agar dapat bertemu dengan saya lagi. Saya tahu bahwa kami berdua telah merasakan kehadiran Kristus ketika berada bersama di saat yang kudus itu.

Dalam kilas balik, saya sadar bahwa bisa saja saya terus berjalan menuju kantor, seperti yang dilakukan petinggi-petinggi agama dalam perumpamaan Yesus mengenai orang Samaria yang baik (lihat Lukas 10:30-37). Tetapi saya bersyukur tidak melakukan hal tersebut. Sejak hari itu, saya  berusaha untuk lebih waspada terhadap godaan kehidupan yang sibuk yang dapat menghalangi saya memenuhi keperluan sesama. Lebih jeli dalam mengikuti perintah Yesus Kristus untuk memberikan secangkir air sejuk atas namanya saat timbul kesempatan untuk melakukannya—dan sekali-kali tidak takut akan akibatnya.

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.