Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Berhenti mengkonsumsi alkohol, dan menemukan tempat tinggal

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 17 Juni 2013

Aslinya diterbitkan di edisi 27 Mei 2013, majalah Christian Science Sentinel


Saya menyampaikan pembuktian tahap demi tahap akan bimbingan serta penjagaan Allah terhadap keluarga kami ini dengan harapan dapat membantu orang lain menyadari bahwa Allah mendengarkan dan menjawab doa kita. 

Pada bulan Juli 2010, ayah kami meninggal dunia. Abang saya, yang tinggal di rumah keluarga, telah minum alkohol selama 40 tahun dan menjadi pemabuk berat. Selama bertahun-tahun dia tidak mengurus dirinya sendiri dan bergantung kepada orang lain untuk membelikan keperluannya, mencuci pakaiannya, berurusan dengan bank, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Kami perlu mendapatkan panti yang menyediakan perawatan penuh baginya, karena rumah keluarga kami akan dijual. Ini merupakan masalah yang besar karena tidak ada panti yang bersedia menerima abang saya kecuali kalau dia sudah di-detox dari kecanduan alkohol. 

Saudara-saudara saya dan saya sangat menyayangi abang, tetapi tidak ada seorang pun di antara kami yang bersedia menampungnya karena kebiasaan abang yang buruk tersebut. Keadaan abang membawa dampak besar terhadap kehidupan kami dan membuat kami cemas setiap hari. Selama beberapa bulan berbagai pikiran memenuhi benak saya: apakah sebaiknya saya menampung abang, apakah sebaiknya menjual rumah keluarga atau tidak, apakah sebaiknya memperbaiki rumah tersebut atau menjualnya apa adanya. Terkadang terasa sangat membingungkan untuk mengambil suatu keputusan. Akhirnya kami merasa terbimbing untuk menyewa kontraktor dan memulai renovasi, meskipun abang masih tinggal di situ. 

Saudara perempuan saya dan saya saling berkonsultasi hampir setiap hari dan berbagi ide yang menyembuhkan yang kami dapatkan dari doa kami dan dari mempelajari Pelajaran Alkitab, karya-karya tulis Mary Baker Eddy, dan majalah-majalah Ilmupengetahuan Kristen. Kami tahu bahwa keadaan ini dapat diatasi, dan kami percaya bahwa Allah akan membimbing kami kepada penyelesaiannya. 

Berikut  ini adalah salah satu pernyataan dari buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci yang menjadi pegangan saya: “Kasih mengilhami, menerangi, serta menunjukkan jalan, dan memimpin kita. Alasan yang murni menjadikan pikiran bersayap, dan memberi kekuatan dan kebebasan kepada perkataan dan perbuatan. ... Sabarlah menunggu sampai Kasih ilahi melayang-layang di atas muka air budi fana dan membentuk paham yang sempurna. Kesabaran tentu akan ‘memperoleh buah yang matang’" (Mary Baker Eddy, hlm. 454).

Setiap hari, mengikuti teladan yang diberikan Yesus saat menyembuhkan orang yang dirasuk setan, saya berusaha melihat abang sebagai “sudah berpakaian dan waras” (Lukas 8:35). 

Selama itu saya mengikuti langkah-langkah insani yang dianjurkan para petugas pemerintah, dokter keluarga, pekerja sosial, dan dokter jiwa. Selama lebih dari setahun, saya menghabiskan banyak waktu untuk pembicaraan telepon, menelusuri anjuran untuk mendapatkan pertolongan bagi abang. Tidak dapat saya lukiskan perasaan frustasi dan putus asa yang kami alami saat kami telah mengikuti semua langkah insani tetapi tidak mendapatkan hasil sedikit pun. Rasanya seperti menghadapi tembok batu ke mana pun kami melangkah. 

Lalu saya teringat sebuah kisah di Alkitab saat bani Israel di kepung banyak musuh. Tuhan memberitahu mereka, “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah ... Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu” (2 Tawarikh 20:15, 17). Saya sadar selama ini saya telah menyatakan rasa tanggung-jawab yang palsu, dan setelah saya melepaskan perasaan tersebut, jawaban pun mulai terlihat.  

Pada suatu pagi saudara perempuan saya menelpon dan dengan bersemangat menceriterakan apa yang telah dibacanya di Pelajaran Alkitab hari itu. Dia memperhatikan bahwa dalam kisah Musa, sang ibu meletakkan bayi Musa di atas keranjang rotan kemudian melepaskannya di tengah-tengah teberau di tepi sungai (Keluaran 2:1-10). “Ibu Musa melepaskan anaknya, mempercayakannya kepada Allah untuk menjaganya,” kata saudara saya. “Kita pun dapat melepaskan abang kita!” 

Saya mempelajari lagi kisah dari kitab Keluaran tersebut dan membaca “kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.” Saya tahu, bahwa itu adalah sabda Allah kepada saya. Saat itu juga, rasa tanggung-jawab palsu yang telah membebani saya sirna.

Saudara perempuan saya beserta abang berkunjung dan tinggal bersama saya. Di malam pertama, abang membuka lemari es dan bertanya, “Mana alkoholnya?” saya menjawab bahwa tidak ada alkohol. Sejak saat itu abang tidak pernah lagi minum alkohol, dan sekarang hal ini sudah berlangsung lebih dari satu setengah tahun.  

Kakak perempuan saya merasa terbimbing untuk menelpon sebuah panti yang menampung orang-orang seperti abang saya. Orang yang menerima telponnya mengatakan, “Bawa abangmu dan barang-barangnya ke sini besok pagi.” Sungguh perubahan yang menakjubkan! 

Keesokan harinya, kami berkendara selama 40 menit ke luar kota menemui perempuan pemilik panti. Dia menyelesaikan administrasi yang diperlukan dan menerima abang kami. Salah satu hal yang seakan merupakan “keajaiban” adalah kami dapat melaporkan dengan sejujurnya bahwa abang telah tidak minum miras selama 48 jam. Dan tidak seperti perkiraan kedokteran, abang tidak mengalami gejala sakau.

Tidak lama sesudah itu, rumah kami terjual dengan cepat, dan kami menemukan suatu tempat yang nyaman untuk kucing abang. Semua keperluan untuk mendapatkan tempat tinggal telah terpenuhi. 

Kata-kata tidak dapat menyatakan rasa syukur saya yang besar kepada Allah, Kasih ilahi,  yang telah memenuhi keperluan kami. Abang pun bersyukur bebas dari kecanduan alkohol dan dengan senang hati mengizinkan saya berbagi kesaksian ini di majalah Sentinel. 


Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.