Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Membebat hati yang terluka

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 18 Maret 2015

Aslinya diterbitkan di edisi Juli 2012 majalah The Christian Science Journal


“Hai, sayang” Mary Ridgway menjawab riang dari kantornya di Dallas, Texas, AS. Tanggapannya yang hangat merupakan cirinya dalam serangkaian wawancara melalui telepon dengan majalah Journal.  Dalam wawancara itu kami mengetahui bahwa Mary berasal dari Texas, dan karena itu berbicara dengan logat Texas yang kental.

Mary tumbuh di Fort Worth, dan sejak kecil sudah menjadi anggota gereja Disciples of Christ di mana keluarganya terlibat secara aktif. Saat remaja, Mary mulai mencari jawaban yang memuaskan mengenai bagaimana sifat Allah itu, dan siapa dirinya yang sesungguhnya, dan dia bergabung dengan gereja Episcopal.

Saat pertama kali mendapat buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, dia telah menikah dan bekerja sebagai terapis musik di sebuah rumah sakit jiwa.  Dengan segera dia menyukai ide-ide rohaniah dalam buku ajar itu dan mulai mempraktekkannya untuk memenuhi keinginannya menyembuhkan orang yang kehilangan harapan dan remuk hatinya. Demikianlah dia memulai perjalanan rohaniah yang membawanya menjadi penyembuh Ilmupengetahuan Kristen. Pada tahun 1991, Mary menjadi guru Ilmupengetahuan Kristen. Dia pernah menjadi anggota Dewan Penceramah Ilmupengetahuan Kristen dan kemudian mengabdi di Gereja Induk di Boston sebagai Pembaca Kedua dan kemudian sebagai anggota Dewan Direktur Ilmupengetahuan Kristen. 

Rasanya tepat untuk memulai wawancara dengan seorang wanita yang mengabdikan hidupnya untuk menyembuhkan hati yang terluka, dengan kutipan khusus dari buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan:

Jika kita hendak membukakan pintu penjara bagi orang sakit, lebih dahulu kita harus belajar membebat hati yang remuk.

–  Mary Baker Eddy, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, hlm. 336.

Mary, dalam pembicaraan terdahulu Anda mengatakan bahwa pernyataan di atas memiliki arti yang besar bagi Anda dalam mempraktekkan Ilmupengetahuan Kristen setiap hari. 

Selama bertahun-tahun, saya telah berbicara dengan banyak sekali orang yang hatinya remuk, dan saya yakin ini dialami setiap penyembuh Ilmupengetahuan Kristen. Saat orang menelpon saya untuk mendapatkan pertolongan, tidak peduli apa yang mereka anggap sebagai masalah mereka—baik itu masalah fisik, masalah yang terkait dengan bisnis, masalah hubungan antar manusia, atau sesuatu yang lain—sering kali, pada dasarnya mereka itu merasa sendiri, takut, tidak dikasihi, kenyamanannya terampas, tidak berharga, bahkan tidak layak untuk sembuh. Pernyataan Ny. Eddy itu menyinari setiap masalah dengan terang wawasan rohaniah, dan membantu saya dalam berdoa untuk mendapatkan kesembuhan. 

Saya sangat yakin, bahwa jika kita dapat membebat hati yang remuk dan terluka dengan lebih baik, mungkin tidak kita dapati begitu banyak orang yang sakit dan tidak bahagia di dunia ini. 

Ny. Eddy dalam tulisannya berkali-kali mengatakan bahwa pelajar Ilmupengetahuan Kristen menyembuhkan dengan Kasih, yang disebutnya sebagai salah satu dari tujuh sinonim untuk Allah. Maka pertanyaan saya adalah, “Bagaimana kita dapat mencapai pasien melalui Kasih?”

Nah, Suzanne, saya mulai dengan berdoa untuk mengetahui bahwa Allah mengasihi saya; bahwa saya mencerminkan kasihNya dan dapat menyatakan kasih ini dengan cara yang bermanfaat dan menyembuhkan. Jika kita tidak dapat melihat hal ini untuk diri sendiri, kita tidak dapat melihatnya untuk orang lain. 

Kasih yang sebesar-besarnya yang dapat kita nyatakan kepada seseorang adalah melihat dan memahaminya sebagaimana Allah memahaminya, sebagai gambar dan keserupaan Kasih ilahi, sarat dengan kebaikan, lengkap, kuat, bersifat benar, murni, dan bebas. Artinya, melihat melampaui pandangan kebendaan yang terbatas, dan melihat siapa sesungguhnya orang itu—anak Allah yang sangat dikasihi. Lalu, saya menanggapi setiap keperluan yang spesifik dari orang tersebut, baik melalui doa saya maupun melalui kata-kata dan tindakan yang menyatakan kasih Kristus yang menghibur, menguatkan, tidak bersyarat, dan menyembuhkan.

Saya rasa ada lebih dari satu orang yang mengatakan kepada Anda, “Saya mendengar Anda mengatakan Allah mengasihiku, tetapi saya tidak dapat merasakannya.”

Pasien sering kali mengatakan hal itu kepada saya. Merasakan kasih Allah, bahkan sedikit saja, sangatlah penting dalam penyembuhan—dan dalam kehidupan sehari-hari! Bagi saya, merasakan kasih Allah, Ibu-Bapa, memiliki dua sisi.

Pertama, saya rasa kita perlu bersedia menerima fakta bahwa Allah adalah Kasih dan mengasihi kita, meskipun saat itu kita tidak merasakannya. Kesediaan tersebut membuka hati kita kepada kemungkinan yang mendatangkan kebaikan yang luar biasa yang disediakan Allah bagi kita, dan dapat menjadi awal kita mengalami dan merasakan kasih Allah. Tidak peduli di mana kita berada dalam hidup ini, bahkan di tempat yang seburuk-buruknya, Allah selalu menyertai kita, mengangkat kita, menghibur, menjaga, dan membimbing kita—betapapun hebatnya magnetisme hewani berusaha mempengaruhi pikiran dan mengatakan yang sebaliknya. 

Suatu petikan dari kitab Yesaya menyatakan itu semua kepada saya. Setiap kali saya membacanya petikan itu menghibur hati saya, dan menerangkan kepada saya sifat dan kedalaman kasih Allah. Petikan itu berbunyi, “Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala” (Yes. 63:8, 9). Tidak mungkin seseorang, bahkan yang telah melakukan dosa atau kejahatan yang seberat-beratnya, dapat dipisahkan dari Kasih yang membebat hati yang remuk dan menyembuhkan orang sakit ini.

Yang kedua, dalam pengalaman saya, jika kita benar-benar mengasihi, kita akan merasakan kasih Allah. Menurut saya, perasaan itu tidak datang selagi kita hanya menunggu seseorang untuk mengasihi kita, atau menunggu pengalaman yang akan membuktikan bahwa Allah mengasihi kita. Sebanding kita menyatakan kasih secara aktif, kita akan melihat kasih itu dinyatakan dalam hidup kita, dan kita akan siap untuk menerima lebih banyak lagi. Hal itu menuntut sifat tidak mementingkan diri sendiri, pengurbanan, kerendahan hati dan kasih sayang yang murni, dan akan meluhurkan serta memberkati orang yang memberikan maupun yang menerima kasih itu. 

Saya mendengar bahwa sebelum menjadi penyembuh Ilmupengetahuan Kristen yang terdaftar, Anda menderita sakit parah yang menyadarkan Anda mengenai hal tersebut

Ya, bertahun-tahun yang lalu saya mengalami kesembuhan yang menakjubkan atas suatu masalah fisik. Hal itu benar-benar telah merubah hidup saya. Kesembuhan itu baru tuntas setelah tiga tahun, dan selama berbulan-bulan saya tinggal di rumah perawatan Ilmupengetahuan Kristen, berdoa dengan tekun dan berupaya untuk lebih banyak mengenal Allah dan diri saya sendiri. Hal-hal yang perlu saya ketahui antara lain menyangkut perasaan hati yang lebih dalam—bahwa ada pikiran dan perasaan yang perlu diperbaiki dan diperbaharui. Mungkin itu merupakan salah satu alasan mengapa masalah membebat hati yang remuk sangat penting bagi saya.

Pikiran dan perasaan Anda tentang diri Anda sendiri?

Ya. Selama beberapa tahun, selagi bergumul untuk mengatasi kehidupan perkawinan yang sulit, saya merasa tidak layak mendapatkan kasih, tidak pantas dikasihi, dan tidak menyatakan kasih. Celakanya, saya mau menerima pandangan seperti itu mengenai diri saya sendiri. Saya mempercayainya. Perasaan ini mulai merusak seluruh kehidupan saya, menggerogoti pandangan bahwa saya manusia yang berharga. Setiap hari rasanya hati saya semakin remuk. Saya tekun berdoa dan saya yakin suami saya pun demikian. Akhirnya dia meninggalkan saya dan menikah dengan orang lain. Perceraian itu sangat menyakitkan.   

Kemudian saya menikah lagi. Allah mempertemukan saya dengan seorang pria yang baik hati, lembut, dan mengasihi saya serta anak-anak saya dengan kasih yang setia dan langgeng. Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu, saya selalu merasa kesakitan dan menderita penyakit yang kelihatannya mengancam jiwa saya. Penyakit tersebut tidak pernah didiagnosa secara medik, tetapi saya mengalami pendarahan di bagian dalam, penurunan berat badan yang drastis, dan organ tubuh saya tidak berfungsi, yang bagi saya menandakan betapa seriusnya penyakit tersebut. Dalam  beberapa bulan keadaan tersebut memburuk, sampai saya tidak dapat mengurus diri sendiri maupun keluarga saya.

Bagaimana Anda dan keluarga Anda menangani masalah ini sebagai pelajar Ilmupengetahuan Kristen?

Kami berdoa sepenuh hati. Kasih suami saya tidak goyah, dan doanya sangat berkuasa. Dia berdoa juga untuk anak-anak, ingin agar mereka merasakan keamanan yang datang saat kita memahami Ibu ilahi kita, Kasih.

Selama saya sakit, seorang penyembuh yang sangat pengasih dan penuh dedikasi, guru saya dalam Ilmupengetahuan Kristen, berdoa bersama saya, memberikan doa penyembuhan Ilmupengetahuan Kristen bagi saya. Saat itu dia menyarankan agar saya tinggal di rumah perawatan Ilmupengetahuan Kristen, dan saya pun melakukannya. Rumah perawatan itu menyediakan perawatan non-medik yang praktis oleh para perawat yang terlatih dalam keperawatan Ilmupengetahuan Kristen. 

Penyembuh itu sangat gigih dalam pengabdiannya, dia merupakan teladan yang sangat jelas tentang sifat keibuan Allah yang tercermin dalam anak-anakNya. Kasihnya yang tanpa syarat sangat nyata. Ada saat-saat ketika saya merasa kecil hati, takut, bahkan putus asa, selain kesakitan dan frustasi. Suatu kali penyembuh itu mengatakan kepada saya dengan tegas, “Mary, yang benar hanya satu, atau Allah ada atau Allah tidak ada. Engkau harus memutuskan apa yang kau pikirkan mengenai hal ini.” Lalu dia mendekap saya dan berdoa bersama saya. Suzanne, sebelumnya kita berbicara tentang merasakan kasih Allah, dan saat itu saya merasakan kasih Allah dengan sangat dalam.

Hal lain yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika suatu pagi saya duduk mandi (saya tidak bisa berdiri). Malam sebelumnya saya sangat resah, berdoa dan memohon kepada Allah, dan saat air yang hangat mengguyur tubuh saya, saya mulai menangis. Tetapi saya mencucurkan air mata bukan karena putus asa atau kesakitan; malah sebaliknya. Saya merasakan kedamaian yang dalam, karena saat itu saya tahu pasti bahwa Allah mengirimkan pesan ini: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (lihat Lukas 12:32). 

Kasih Allah dapat saya rasakan dan nyata. Saya dapat merasakan kemurnian dan kejernihan kesadaran yang bersifat Kristus yang mencerminkan Kasih tersebut. Saya merasa sangat diberkati, dan menyadari bahwa saya mencucurkan air mata karena bersyukur. Saya mulai melihat dengan lebih jelas bahwa kerajaan yang diberikan Allah kepada saya sarat dengan keselarasan, damai, penghiburan, kekuatan rohaniah; bukan rasa sakit, kesedihan, fungsi yang tidak bekerja, atau kehancuran. Itu merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga, yang mendatangkan harapan dan kekuatan untuk berdiri teguh dalam iman saya. 

Dan apa yang Anda temukan selama bulan-bulan tersebut?

Tahukah Suzanne, kita pikir suatu kehidupan yang baru, penuh kebaikan, dengan seorang suami yang penuh kasih, akan menghapuskan pandangan yang merugikan tentang diri sendiri, tetapi terkadang pikiran budi fana mati secara perlahan. Meskipun saya mengalami kemajuan, saya masih perlu memahami lebih banyak keakuan saya yang rohaniah di dalam Allah—untuk melihat melalui lensa Roh guna mengetahui bagaimana Allah melihat diri saya.  Pernyataan dari buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan ini sangat membantu: “Seharusnya kita memeriksa diri kita sendiri untuk mengetahui apa yang merupakan kecenderungan serta maksud hati kita, karena hanya dengan demikianlah kita dapat belajar mengetahui diri kita sendiri dengan sesungguhnya” (hlm. 8). Saya sungguh ingin belajar mengetahui apa dan siapa diri saya itu. 

Saya sadar bahwa pertama, saya harus belajar bagaimana membebat hati saya yang remuk agar dapat menyembuhkan tubuh dengan memahami diri saya. Saya harus melihat bahwa wujud saya yang rohaniah tidak ditentukan oleh pikiran atau tindakan orang lain (baik atau buruk), bahkan untuk mendapatkan kasih. Ketidakterpisahan saya dari Kasih ilahi, sifat-sifat Allah yang merupakan substansi dan sifat saya yang sebenarnya … itulah yang terutama saya renungkan dalam doa saya. 

Jadi itu merupakan masa yang sangat produktif dan sarat dengan kemajuan dan kematangan rohaniah . . .

Banyak sekali yang perlu saya pelajari. Yang jelas saya perlu belajar banyak tentang mengasihi—terutama mengasihi diri saya sendiri. Dan saya sadar bahwa saya perlu lebih mengasihi dengan Asas ilahi. Artinya bukan mengasihi dengan menuruti segala yang diinginkan orang lain, tidak dengan membiarkan orang lain melakukan kesesatan, tetapi kuat di dalam Kasih ilahi, dan hanya mengakui bahwa Allah, kebaikan, adalah satu-satunya yang berkuasa. Karena, bagaimana kita secara mental bisa melawan kecenderungan tubuh untuk membuat keluhan yang ingin memperbudak kita, jika kita tidak dapat melawan kecenderungan pikiran fana yang sesat untuk memperbudak kita? Saya juga bertanya: bagaimana kita dapat menyembuhkan orang sakit jika kita tidak melihat masalah itu secara lebih dalam untuk menemukan hati yang remuk yang perlu dibebat? 

Ilmupengetahuan dan Kesehatan menegaskan dengan segala cara ajaran Alkitab bahwa Allah adalah Kasih, dan bahwa manusia diciptakan dalam gambar dan keserupaan Allah. Saya perlu benar-benar memahami bahwa hal ini berlaku bagi diri saya. Jelaslah bahwa identitas yang saya terima (orang yang saya kenal sebagai diri saya) mengalami kekalahan, merasa tidak dikasihi, bingung, ditolak, dan kesakitan—dan orang itu akan mati. Sangatlah penting untuk membuang pandangan tersebut dan bersedia mengenal diri saya sendiri sebagaimana Allah mengenal diri saya—sehat, lengkap, kuat, penuh maaf, mudah dikasihi, mengasihi, dan sarat dengan hidup yang adalah Allah. Saya berpikir, bahwa jika Allah adalah Kasih dan saya diciptakan dalam gambar Allah yang penuh kasih, maka mengasihi dan dikasihi merupakan hal yang wajar bagi saya, seperti halnya bernafas.  Saya melihat bahwa kasih Allah kepada saya dapat merubah cara saya memandang diri sendiri.  

Saat saya cukup sehat untuk membaca, saya membaca Ilmupengetahuan dan Kesehatan  berulang kali.

Buku itu menjadi tali yang menyelamatkan hidup Anda, bukan?

Benar sekali! Saya ingin mengatakan bahwa ayah mertua saya yang terdahulu, yang adalah penyembuh Ilmupengetahuan Kristen, memberi saya buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan yang saya miliki pertama kali. Itulah buku yang saya baca berulang-kali di rumah perawatan Ilmupengetahuan Kristen. Saya merasa dekat sekali dengan ide-ide yang terdapat dalam buku itu, sehingga selain Allah, Ilmupengetahuan dan Kesehatan benar-benar menjadi sahabat karib yang selalu menemani saya. 

Kedekatan dengan ide-ide yang terdapat di buku itu juga membawa saya lebih dekat dengan pengarangnya, Mary Baker Eddy. Saya banyak memikirkannya. Berkali-kali dalam hidupnya dia mengalami hati yang remuk—baik sebelum maupun sesudah penemuannya akan Ilmupengetahuan Kristen. Saya sangat bersyukur bahwa dia terus menulis dan menerbitkan Ilmupengetahuan dan Kesehatan, seringkali saat menghadapi kesulitan yang luar biasa besar. Saya pikir, “Di mana saya, dan demikian banyak orang lain, saat ini, jika tidak ada buku ini?”

Sesuatu yang ditulis salah seorang muridnya, Samuel Putnam Bancroft, tentang Ny. Eddy, sangat berkesan bagi saya. Ny. Eddy digambarkannya sebagai seorang yang memiliki kerohanian, pengabdian sejati, keberanian moral, dan kekuatan rohaniah yang sangat tinggi. “Ketika yakin akan perlunya menyebar-luaskan apa yang diwahyukan kepadanya dalam bentuk buku, Ny. Eddy mengasingkan diri selama tiga tahun lebih untuk tujuan tersebut, hanya memberi dirinya apa yang paling diperlukan dalam hidupnya, sementara dia menulis. Saya mengenalnya saat dia dihantam kesedihan, tetapi dia terus menulis. Saya mengenalnya ketika, satu persatu temannya meninggalkannya, tetapi dia terus menulis. Saya melihat banyak muridnya mendatangkan olokan dan celaan kepadanya, tetapi tetap saja dia menulis” (Gillian Gill, Mary Baker Eddy, hlm. 216). Itu merupakan gambaran sekilas yang menyakitkan sekaligus meluhurkan hati kita, mengenai suatu masa dalam hidupnya—yang sarat dengan kasih kepada Allah serta manusia dan tekad rohaniah yang besar. 

Dia tahu bagaimana rasanya mengalami hati yang remuk; tetapi Allah mewahyukan kepadanya Ilmupengetahuan mengenai penyembuhan rohaniah, dia menuliskan wahyu itu, kemudian memberikannya kepada dunia dalam buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan. 

Sebagai akibatnya, Anda sembuh tuntas dari keadaan yang mengancam jiwa Anda tersebut.

Ya, rasa sakit itu hilang, kemunduran dan kehancuran yang menyertai keadaan itu dibalikkan, dan saya sehat kembali sepenuhnya.   

Tentu saja, hal terpenting dari pengalaman itu adalah pertumbuhan rohaniah yang terjadi. Ini benar-benar merubah hidup saya. 

Perlu saya katakan bahwa pengalaman ini tidak merupakan garis lurus menuju kemajuan. Saya pernah ingin menjadi lumpuh saja agar tidak merasakan rasa sakit, tapi pernah  juga merasakan kasih yang begitu besar kepada Yesus sehingga saya benar-benar ingin lebih sepertinya; saya pernah minta agar penyembuh tidak berbicara lagi kepada saya, karena semua itu “hanyalah kata-kata belaka,” tapi pernah juga mengasihinya dengan segenap hati untuk kesabarannya yang luar biasa, kerohaniannya, dan doanya yang tidak pernah berhenti; saya pernah melemparkan buku-buku saya, tapi pernah juga merasakan rasa syukur yang begitu besar kepada Ilmupengetahuan dan Kesehatan dan Ny. Eddy sampai-sampai saya menangis. Dari merasa sama sekali tidak mampu menghasilkan kesembuhan, sampai mengakui kehadiran serta kasih Allah dan benar-benar merasakannya, telah saya alami. Dapat dikatakan saya “berjuang dengan benar.” Kasih mengajar dan menunjukkan jalan kepada saya, membawa saya lebih dekat kepada Allah. 

Semua pengalaman ini berujung pada suatu malam ketika saya benar-benar merasakan kesatuan saya dengan Allah dan menyadari bahwa hanya itulah yang sesungguhnya saya inginkan. Saya melihat dengan lebih jelas dari pada sebelumnya sekelumit wujud rohaniah, dan sesuatu dalam diri saya berubah untuk selamanya. Substansi kesadaran saya bergeser—saya benar-benar dapat merasakannya. Pikiran saya “bertolak dari” sudut pandang yang berbeda—yakni bertolak dari perhubungan saya dengan Allah dan menyadari bahwa saya dan Bapa benar-benar adalah satu, seperti yang dikatakan Yesus. 

Saya tahu dan merasakan di hati saya bahwa tidaklah penting bila tubuh saya tetap ada atau tidak karena bagaimanapun juga, saya tidak ke mana-mana. Hidup saya yang ada di dalam dan bersama Allah, itulah yang penting—hidup yang sudah selalu ada di dalam Allah dan akan selalu ada di dalam Allah, Roh, itulah yang penting. Bahwa sejatinya, saya memang ide rohaniah Allah! Ini sudah pasti merupakan “hal-hal yang tersembunyi di dalam diri Allah” (1 Korintus 2:10), dan tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata, tetapi saya mengetahuinya di dalam hati saya—hal-hal yang terus mendorong saya dalam perjalanan rohaniah saya. 

Ini bukan berarti keesokan harinya saya sudah keluar dari rumah perawatan Ilmupengetahuan Kristen, tetapi saya keluar tidak lama sesudah itu, pulih dan sembuh sama sekali. Yang saya pelajari di masa penyembuhan itu dan di malam yang penting itu, menerangi semua yang saya pikirkan dan lakukan sejak saat itu—bagaimana saya berpikir, bagaimana saya mengasihi, bagaimana saya menjalani hidup saya, dan bagaimana saya terus-menerus berusaha lebih memiliki pengertian rohaniah agar dapat membebat hati yang remuk dan menjadi penyembuh rohaniah yang lebih baik.

Saat menghadapi yang seakan sebagai tantangan fisik yang berat, seperti yang Anda alami, mungkin orang akan tergoda untuk bertanya, “Mengapa saya?” 

Saya dapat merasakan apa yang dirasakan orang itu, karena itu merupakan tanggapan yang dapat kita mengerti. Ketika kita telah berdoa dengan rajin dan berusaha hidup dengan sebaik-baiknya, rasanya tidak adil dan tidak terbayangkan bahwa kita harus menderita. Tetapi mungkin “Mengapa saya?” bukanlah pertanyaan yang terbaik untuk diajukan. Mungkin pertanyaan yang lebih baik adalah, ”Pelajaran apa yang dapat saya petik dari keadaan ini?”

Pada waktu tergoda untuk bertanya “Mengapa saya?” saya melihat beberapa pertanyaan yang diajukan Ny. Eddy di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan. Misalnya, “Tanyakanlah kepada diri sendiri: Adakah saya menjalani hidup yang mendekati kebaikan yang mahatinggi?” (hlm. 496) dan, “Sungguh-sungguh bersyukurkah kita untuk kebaikan yang sudah kita terima?” ( hlm. 3).  Menanyakan hal-hal seperti itu selalu membantu saya mendapatkan pandangan yang lebih baik. Menjawab pertanyaan itu dengan jujur dapat mendatangkan berkat yang luar biasa!

Bukankah tantangan-tantangan yang kita hadapi, bagaimanapun datangnya, mewakili salib yang menurut Yesus kita harus bersedia memikulnya—dan dapat dengan berhasil memikulnya—jika kita mengikuti teladannya?

Betul sekali!  Itulah yang kita bicarakan. Coba pikir tentang orang-orang yang dimasukkan perapian yang panas! Dan semua saudara kita di dalam Alkitab yang menunjukkan kepada kita bahwa Allah hadir di tengah-tengah keadaan yang seburuk-buruknya.

Rasul Paulus adalah pengikut Yesus yang sangat setia. Ketika mengatakan, “aku senang dan rela di dalam kelemahan” (2 Korintus 12:10), hal itu bukan karena dia senang disiksa. Itu adalah karena dia menyambut hangat kesempatan untuk membuktikan kasih Allah, kehadiran dan kuasa Allah.  Paulus mempraktekkan Kekristenannya dalam hidupnya. Hal itu menuntut banyak keberanian rohaniah. 

Lebih dari siapa pun juga, Yesus menunjukkan kepada kita keberanian rohaniah dengan menerima dan mengatasi cobaan yang dihadapinya. Sang Guru kita mampu melakukan apa yang dilakukannya karena mengetahui dengan sempurna jati dirinya. Dia mengenal Allahnya, dan mengenal dirinya sendiri di dalam Allah. Pengenalan dirinya mendukung kemampuannya untuk mengatasi setiap pembatasan kebendaan. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kita pun mampu melakukan hal yang sama. 

Ny. Eddy menjelaskan pentingnya pengenalan diri dalam artikelnya yang berjudul “The Way” (Jalannya), di mana dia mengatakan bahwa pengenalan diri adalah tahap pertama dalam pertumbuhan yang harus dilalui budi fana untuk mendapatkan kesembuhan yang baik—kesembuhan yang serta merta (lihat Miscellaneous Writings 1883–1896, hlm. 355–359). Tahap ini mencakup membiarkan Kebenaran ilahi menyingkapkan segala sesuatu yang bukan merupakan identitas rohaniah kita—menanganinya dan mengatasinya. 

Menurut saya pengenalan diri merupakan unsur utama dalam penyembuhan. Hal itu sungguh sangat penting dalam membebat hati yang remuk, seperti telah kita lihat. Saya  sering berpikir bahwa salib kita adalah salib pengenalan diri. Kita harus mengangkatnya, memikulnya, dan berupaya memahami jalan untuk melampauinya, dan membuktikan wujud kita yang sejati dan tanpa dosa.

Selama lebih tiga dasa warsa menjadi penyembuh, Anda telah menyaksikan banyak sekali penyembuhan, tetapi juga menemui orang yang merasa sudah berdoa dengan sepenuh hati tetapi belum melihat hasil yang diharapkan, dan hal ini menyebabkan hati mereka remuk. Dan mereka menyimpulkan bahwa Allah telah menelantarkan mereka. 

Atau mereka merasa telah gagal mengikuti Allah. Terkadang saya mendengar orang mengatakan, “Saya merasa telah membuat Allah kecewa.”

Maksudnya mereka merasa telah mengecewakan Allah dengan membuat keputusan yang mereka anggap bertentangan dengan keyakinan mereka tentang Allah?

Mungkin demikian atau mereka merasa gagal karena tidak menjadi pelajar Ilmupengetahuan Kristen yang “cukup baik” untuk menyembuhkan diri mereka sendiri. Dan jika mereka memilih untuk menjalani operasi atau cara kedokteran untuk mengatasi suatu keadaan, hal itu sangat membebani mereka. Hati mereka remuk, dan rasa bersalah yang mereka rasakan merupakan rintangan untuk merasakan dan menerima kasih dan penjagaan Allah.

Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini?

Saya kembali kepada fakta bahwa semua orang memiliki perhubungan dengan Allah yang tidak dapat diputuskan, dan keputusan yang diambil setiap orang adalah masalah orang itu dengan Allah. Saya tidak akan pernah mencoba mempengaruhi keputusan seseorang tentang perawatan yang mereka pilih. Saya percaya sekali bahwa kasih Allah membimbing, melindungi, dan menjaga setiap orang, setiap waktu. Ada pernyataan Ny. Eddy yang sangat indah, yang mengatakan, “Kearifan dalam tindakan manusia dimulai dengan yang paling mendekati hal yang benar untuk keadaan yang dihadapi, dan dari situ mencapai hal yang mutlak” (Miscellaneous Writings, hlm. 288). Berbagi pandangan ini dengan orang lain sangatlah membantu. Hal itu menghibur dan meredakan banyak rasa takut dan stres.

Memutuskan perawatan kesehatan yang akan kita pilih terkadang sangat sulit. Oleh karena itu tidak tepat untuk memberi kritik atau menghakimi; yang perlu adalah lebih mengasihi.

Tidak diragukan bahwa dewasa ini dunia memerlukan kasih yang murni dan rohaniah.

Tahukah Suzanne, meskipun saya sangat bersyukur untuk penyembuhan-penyembuhan yang saya alami dalam hidup saya, saya sadar bahwa ada begitu banyak hati yang remuk, orang dan bangsa yang menderita di dunia ini yang memerlukan pembebatan Kasih ilahi. Terkadang kesulitan kita sendiri  terasa tidak berarti dibanding masalah mereka. Selama generasi demi generasi teologi Yesus dan penemuan Ny. Eddy akan Ilmupengetahuan tentang penyembuhan yang diajarkan dan dipraktekkan Yesus telah membuka belenggu setiap orang yang sakit, di mana saja.

Ny. Eddy dalam suatu wawancara di tahun 1907 dengan majalah New York American mengatakan: “Saya tahu bahwa misi saya adalah untuk seluruh dunia, bukan hanya bagi pengikut saya yang setia dalam Ilmupengetahuan Kristen. Seluruh upaya saya, seluruh doa dan air mata saya adalah bagi umat manusia, dan penyebaran damai serta kasih di antara umat manusia” (baca Christian Science Sentinel, 31 Augustus 1907, hlm. 1004). Ny. Eddy mengharapkan agar kita memperluas kasih serta doa kita, dan mengetahui bahwa doa yang kita panjatkan untuk dunia, manjur, membawa perubahan ke arah kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.